Rabu, 04 April 2012

Must Strategy “Bikin yang mantep, biar yang ga ikut ngerasa kelelep”

Bagaimana agar ta’lim yang kita adakan dihadiri oleh massa kampus? Atau bagaimana agar buletin yang kita buat dibaca oleh objek dakwah? Atau intinya bagaimana caranya agar orang merasa harus berpartisipasi dalam program syiar yang kita lakukan, baik seminar, ta’lim, buletin dsb. Atau dengan bahasa lain, orang akan merasa rugi ketika tidak berpartisipasi.

Salah satu lembaga dakwah program studi (LDPS) di GAMAIS pernah
membuat sesuatu yang unik. Mereka membuat sebuah buletin. Salah satu konten buletinnya adalah Teka Teki Silang. Nampak buletinnya biasa saja. Tapi saat itu, banyak mahasiswa yang antusias membaca buletin tersebut. Kenapa? Padahal tidak ada yang istimewa dengan buletin tersebut. Bahkan beberapa tema tidak cukup menarik bagi yang membacanya. Tapi kenapa banyak mahasiswa dalam prodi tersebut yang bersemangat membacanya? Kuncinya ada di teka-teki silang. Buletin ada empat lembar, pada setengah lembar terakhir terdapat teka-teki silang. Teka teki silang yang dibuat menyediakan hadiah yang menarik bagi mahasiswa program studi tersebut. Semua jawaban dalam teka teki silang tersebut terdapat di semua konten yang ada dalam buletin tersebut. Sehingga untuk menjawab teka-teki silang tersebut mahasiswa harus membaca semua konten. Dan buletin ini menggunakan Must Strategy. Orang merasa harus membaca buletin tersebut untuk mendapatkan hadiah menarik yang diinginkan.
Salah satu metode praktis pelaksanaan must strategy adalah membuat ketidakseimbangan positif antara subjek yakni kita sebagai pelaksana program syi’ar dengan objek dakwah.

Ada kisah inspirational dalam dunia marketing. Tentang kisah bagaimana yang Bayar malah mengalahkan yang Gratis. Mungkin gratis adalah kata yang menarik. Namun apabila Anda bisa membuat program secara keseluruhan memberikan ketidakseimbangan positif antara Anda dan objek program Anda. Sesuatu yang gratis bisa jadi Anda kalahkan dengan program Anda meskipun program Anda tidaklah gratis. Dalam dunia marketing misalnya di kota Malang. Tentang BCA kota Malang. Pertumbuhan Kartu ATM-nya dari no. 7 menjadi no. 1 di Indonesia, di luar Jabotabek. Saat itu, pembuatan kartu ATM yang baru Gratis di Indonesia namun tidak di Malang. Aktivasi kartu ATM di Malang dikenakan biaya Rp. 5.000,- per kartu. Salah satu jurusnya yang dijelaskan dalam buku Marketing Revolution adalah sebagai berikut:
Bayar Rp. 5.000,- dapat kartu ATM, dapat undian khusus kota Malang:
  • 1 Mobil Daihatsu Espass,
  • 5 Sepeda Motor Suzuki,
  • 60 Walkman Sony,
  • Plus hadiah langsung Mug senilai Rp. 7.000,- (di Matahari saat itu sebuah Mug benar-benar dijual Rp. 7.000,-)
Kalau ada orang yang bilang terang saja laku tapi membuat pihak BCA Kota Malang rugi maka orang tersebut sepertinya belum mengetahui seni membeli/mendapatkan hadiah dari grosir/pabrik/sponsor. Harga Mug saat itu di pabriknya apabila dibeli sekaligus 40.000 mug adalah Rp. 1.000,- per mug. Jadi, dalari Rp. 5.000,- per kartu, pihak BCA hanya mengeluarkan Rp. 1.000,- per mug dan Rp. 1.000,- untuk insentif karyawan setiap mendapatkan 1 pelanggan kartu ATM. Sisanya Rp. 3.000,- untuk biaya hadiah. Nggak rugi bukan?

Nah sekarang, mari kita terapkan di kampus. Dalam sebuah kajian temanya “Menyongsong Peradaban Islam”. Tapi hanya sedikit orang yang hadir, tidak sampai 50 orang. Padahal acara kajian tersebut sudah dipersiapkan dengan matang baginya, pembicara cukup terkenal, gratis lagi. Tapi kenapa hanya puluhan orang yang hadir? Begitulah pertanyaan yang muncul sedikit diiringi dengan kekesalan.
Pernahkah Anda mengalami kejadian yang sama dengan kasus ini? Pasti pernah dong, ingat great eventnya Assalam??  Yapp,,,Creamosfair…peserta yang hadir sedikit kan? Hhehe
Mengadakan sebuah kajian, seminar ataupun ta’lim tetapi yang hadir jauh dari yang diharapkan? Mungkin banyak dari kita yang pernah mengalaminya. Ini karena kita belum menggunakan Must Strategy. Anda belum bisa membuat objek dakwah Anda merasa harus berpartisipasi dalam program syi’ar Anda. Anda belum bisa membuat objek dakwah Anda merasa rugi jika mereka tidak berpartisipasi.

Di kampus ITB, suatu ketika GAMAIS mengadakan sebuah acara kajian bedah buku. Tema kajiannya “Dari bangku kuliah ke bangku istana”. Menghadirkan pembicara bapak Anis Matta. Untuk mengikuti acara ini seseorang harus membeli tiket yang harganya Rp. 15.000,- walhasil peserta yang ada saat acara kajian berlangsung lebih dari 700 orang. Mungkin Anda berpikir terang saja banyak yang hadir. Pembicaranya saja Anis Matta seorang wakil ketua DPR RI saat ini. Tapi jangan salah kaprah, acara tersebut diadakan tahun 2007 dimana Anis Matta belum cukup terkenal di Indonesia, begitu juga di Kampus ITB.
Ketika ditemui ketua pelaksananya, Panji Prabowo, kepala Keluarga Mahasiswa Islam (GAMAIS) ITB 2009. Untuk mengikuti acara ini seseorang harus membayar Rp. 25.000,- per tiketnya. Setiap pembelian tiket, peserta akan mendapatkan buku “Dari Gerakan ke Negara” karya Anis Matta sendiri (saat itu harga bukunya Rp. 27.000,- di pasaran). Sekali lagi Anda tidak perlu khawatir jika GAMAIS akan rugi saat itu. Inilah seni membeli dari pabrik. GAMAIS mendapatkan Rp. 13.000,- untuk setiap bukunya dalam pembelian 1000 buku saat itu. Sehingga dari setiap peserta GAMAIS mendapatkan sekitar Rp. 12.000,- untuk memenuhi kebutuhan logistik kegiatan. Dan walhasil hadirnya peserta lebih dari 700 orang pun terjadi. 300 buku lainnya dijual terpisah dengan harga Rp. 20.000,- penjualan terpisah tersebut membuat GAMAIS tidak rugi sedikitpun. Meskipun  acara kajian tersebut tidaklah Gratis tapi acara tersebut mampu menyedot target dakwah yang jauh lebih banyak dibandingkan acara Gratis. Pada acara tersebut muncul ketidakseimbangan negatif yang kemudian membuat orang merasa rugi ketika mereka tidak berpartisipasi.

Begitu juga ketika Anda hendak mengadakan sebuah kegiatan. Anda tidak perlu takut apabila Anda harus mengadakannya tidak secara gratis. Anda cukup memikirkan bagaimana agar target dakwah Anda tidak merasa rugi mengikuti acara yang Anda buat tidak gratis ini. Atau bahkan target dakwah Anda merasa sangat dirugikan jika dia tidak mengikuti acara yang Anda buat.

Ada lagi, event bedah buku “Analisis Instan Problematika Dakwah Kampus” oleh Kang Ucup (Ridwansyah Yusuf Achmad) dan kang Arya Sandiyudha (Kepala SALAM UI). Saat itu kang Arya bercerita bahwa suatu ketika SALAM UI pernah mengadakan ta’lim. Objeknya dispesifikasikan untuk anggota Pecinta Alam yang saat itu memang anggotanya cukup banyak. Agar anggota unit pecinta alam hadir, pembicara utamanya adalah ketua unit. Dan ternyata memang efektif, hampir semua anggota datang saat itu. Akan tetapi, saat itu ketua untinya bukanlah orang yang mengerti tentang islam. Lalu yang jadi pertanyaan adalah apa dan bagaimana pesan islam disebarkan saat ta’lim tersebut?
Uniknya disini, panitia saat itu menghadirkan moderator yang alim dan tergolong orang yang memiliki pemahaman islam yang baik dan banyak di kampus. sehingga setiap slide yang dijelaskan oleh ketua unit pecinta alam yang saat itu menjadi pembicara utama, moderator selalu menambahkan dengan hikmah, ayat suci al-qur’an, hadist, dan pemaknaan keislaman lainnya sehingga pesan keislaman yang ditargetkan tersampaikan pada peserta ta’lim tetap dapat tersampaikan dengan baik. Dan ta’lim ini menggunakan Must Strategy dimana calon peserta dipaksa harus datang ta’lim karena pembicara utamanya adalah ketua unit yang diikutinya.

Begitupun dengan Mentoring PAI di POLBAN. Mentoring PAI dibrandingkan sebagai kegiatan pembinaan mata kuliah PAI. Kegiatan ini menggunakan Must Strategy dimana kita tidak begitu gencar dalam melakukan publikasi tetapi bisa mendatangkan peserta  yang banyak karena alasan NILAI. :D

Jadi, must strategy apa yang akan diterapkan untuk mensyiarkan Islam di kampusmu??

Daftar Pustaka:
Alam, Agung W.M. 2010. 100% LDK itu Keren!!!. GAMAIS Press. Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar