#Part 1-Kisah Georgia Sadler
Ada kisah unik dan inspiratif dari seorang petugas kesehatan. Georgia Sadler, itulah nama petugas kesehatan tersebut. Ia sangat ingin meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat kulit hitam San Diego, khususnya wanita terhadap diabetes dan kanker payudara. Dengan modal terbatas, ia mengadakan seminar-seminar di gereja-gereja seusai kebaktian. Akan tetapi, meskipun ada sekitar dua ratusan orang yang menghadiri kebaktian, hanya sekitar dua puluh orang yang menghadiri seminar yang ia adakan. Setelah beberapa lama, di tengah kekecewaan akan gagalnya seminar-seminar yang sering diadakannya seusai kebaktian, ia berpikir kembali. Ia berpikir bahwa ia memerlukan konteks baru. Ia pun menemukan solusinya. Ia pindahkan kampanyenya dari gereja ke salon-salon kecantikan. Nah lho? Gimana tuh ceritanya bisa begitu? Dari seminar ke salon kecantikan.
Jadi gini kondisinya. Wanita yang sama dengan yang hadir di gereja mungkin
berada di sebuah salon antara dua hingga delapan jam hanya untuk menata rambutnya. Wanita yang sama juga rela untuk pergi ke tempat penata rambut yang mampu menata rambutnya sesuai dengan keinginannya. Intinya, menata rambut begitu penting bagi wanita di San Diego saat itu.
Dengan modal yang tinggal sedikit, Sadler mendirikan sebuah salon kecantikan. Ia merangkul semua penata rambut yang memiliki kompetensi yang tinggi. Ia ajarkan semua yang terkait diabetes dan kanker payudara. Sifat dasar sang penata salon yang mudah memulai pembicaraan dengan berbagai topik membuat tema diabetes dan kanker payudara inipun mudah untuk disampaikan dengan wanita-wanita di San Diego saat itu. Kampanye itupun berhasil dilakukan Sadler untuk meningkatkan kesadaran terhadap diabetes dan kanker payudara kepada wanita di San Diego saat itu. Dalam beberapa bulan, hampir semua wanita di kota itu pernah berkunjung ke Salon milik Sadler tersebut. Dengan kata lain hampir semua wanita di kota itu telah mendapatkan kampanye terkait diabetes dan kanker payudara. Sadler mengerti betul media apa yang paling lekat dengan objek kampanyenya dan dia memanfaatkan media tersebut. Sadler tidak menggunakan seminar untuk meng-kampanyekan apa yang ia ingin kampanyekan, karena seminar bukanlah media yang paling lekat dengan objek kampanyenya. Tetapi Sadler lebih memilih menggunakan salon dan mengoptimalkannya.
Sadler memberikan inspirasi kepada kita. Inspirasi penggunaan media yang tepat. Tidak jarang saya menemukan LDK menggunakan bulletin untuk mensyi’arkan islam padahal itu sangat tidak efektif dilakukan. Ada yang menggunakan ta’lim, padahal sangat tidak mungkin ta’lim dihadiri dengan optimal oleh massa kampus karena massa kampus begitu sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Saat Anda ingin mensyi’arkan islam ataupun memberikan informasi tentang kegiatan syi’ar Anda, Anda pasti harus menggunakan media. Media dapat berupa bulletin, poster, televisi, radio, ponsel dan berbagai media unik lainnya. Tapi ada sesuatu yang sangat penting bagi saya dan harus Anda ingat sebelum Anda memutuskan media seperti apa yang akan Anda pilih. Ada yang harus Anda perhatikan sebelum Anda menggunakan bulletin, mengadakan ta’lim, dan media lainnya. Itu adalah faktor kelekatan, yakni seberapa lekat media yang Anda gunakan dengan objek da’wah Anda? Jangan sampai kita mensyi’arkan islam dengan bulletin padahal masyarakat kampus sangat malas untuk membaca. Atau Anda menggunakan facebook padahal tidak lebih dari 20% masyarakat di kampus Anda memiliki facebook. Strategi menggunakan media yang lekat dengan masyarakat kampus ini lah yang disebut dengan stickness strategy. Strategi ini akan membuka mata kita untuk bisa mencari dan memilih media penyampaian pesan keislaman dengan lebih kreatif dan efektif.
Apa yang lengket dengan lingkungan kampus Anda? Apakah...
- Komik
- Kantin *Menggencarkan publikasi di kantin-kantin, setiap meja kantin dibuatkan publikasi berbentuk limas sehingga bisa berdiri dan bertahan cukup lama
- Radio
- Novel
- Artis Korea
- Atau yang lainnya?
Daftar Pustaka:
Alam, Agung W.M. 2010. 100% LDK itu Keren!!!. GAMAIS Press. Bandung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar